2 Jam Mengenal Muhammad Nazar

0
803
Google search engine

Google search engine

Oleh Muhammad Nazari

Saya mengenal Muhammad Nazar dalam sebuah momentum diskusi panel dengan Tema Solusi Konflik Aceh di Jakarta pada tanggal 27 November 1999. Diskusi panel ini adalah inisiasi saya bersama Drs. Teuku Rusdi Aiyub, MA seorang dosen IIP Jakarta, dilaksanakan di Aula Dhamhir Islamik kampus ketika itu Sosok Muhammad Nazar menjadi terkenal atau istilah populernya saat ini viral setelah berhasil menginisisasi acara kolosal sidang umum masyarakat pejuang Referendum (SU-MPR)di halaman mesjid raya Banda Aceh yang dihadiri lebih kurang dua juta masyarakat Aceh pada tanggal 8 November 1999.

Dalam diskusi panel tersebut Muhammad Nazar sebagai Narasumber utama didampingin Salahudin Alfatah pokra dan Razali Abbas Adan ( kelompok pro Referendum) yang membahas mengapa Aceh perlu Referendum, sedangkan rivalnya kelompok anti Referendum diwakili oleh Dr. Affan Gaffar dosen UGM dan juga dosen IIP Jakarta, Diskusi yang dimoderatori oleh Andi Mallarangeng dan Imam Prasojo dengan keynote speaker nya Profesor M. Ryaas Rasyid berjalan baik sekalipun sedikit hangat namun masih dalam koridor brainstorming intelektualitas. Argumentasi yang disampaikan Muhammad Nazar mendapat aplus dari peserta diskusi.

Saya kenalkan nama saya Muhammad Nazari sebagai jubir Referendum di Kongres KNPI di Caringin bogor yang dilaksanakan Oktober 1999 atas mandat lisan seluruh DPD II KNPI seluruh Aceh pada Komisi khusus yang dibentuk saat Kongres, padahal saya dengan Muhammad Nazar tidak ada hubungan baik secara pribadi maupun secara organisasi.

Ada perbedaan pandangan DPD II KNPI dengan DPD I KNPI Aceh tentang issu yang diperjuangkan di Kongres KNPI, DPD I KNPI Aceh yang dikomandani oleh kanda Andaman SE, lebih kepada issu otonomi khusus, sedangkan DPD II KNPI ” karena ada pressure ” issu yang harus disuarakan adalah Referendum, paling tidak issu ini menjadi bergaining rekomendasi Kongres KNPI kepada Pemerintahan Gusdur bahwa Aceh harus diberikan otonomi khusus sebagai salah satu opsi dalam penyelesaian konflik Aceh.

Gusdur sempat panik ketika dua acara penting tersebut hampir bersamaan terjadi yaitu SU-MPR dan Kongres KNPI di Caringin Bogor. Dan 12 jam kemudian setelah issu menggelinding di Kongres KNPI keluar pernyataan Gusdur dari Phon phen bahwa Referendum Aceh 6 bulan lagi dengan argumentasi kalau timtim bisa referendum kenapa Aceh tidak!.

Seorang dosen pasca sarjana UGM yang ikut dalam komisi D (Daerah) yang dibentuk atas aspirasi peserta dalam rapat pandangan umum, maaf saya tidak ingat lagi namanya. Beliau menyatakan tidak setuju jikalau Aceh dilakukan Referendum, setelah penyampaian pendapat dalam rapat komisi, saya mengajak beliau ke luar ruangan untuk berdiskusi, lalu kemudian saya bertanya; Kenapa Anda tidak setuju Kalau Aceh dilakukan Referendum? lalu dijawabnya dengan 3 Argumentasi yaitu, pertama bahwa konflik Aceh adalah konspirasi Amerika, kedua Bagaimana Orang Aceh 12,5 prosen kalau Aceh Merdeka ( menurut pengakuan nya, dia juga orang Aceh asal Alue bili Nagan Raya yang adalah warga transmigrasi) ketiga Jika KNPI merekomendasi pada pemerintah Referendum maka pemerintah “harus” melaksanakannya.

Dalam pikiran saya, besar juga pengaruhnya Kongres KNPI. Muhammad Nazar meyakinkan masyarakat Aceh untuk minta Referendum, kami di Kongres coba meyakinkan mewakili pemuda seluruh Indonesia untuk mendukung Referendum Aceh.

Namun yang saya ingat sekali ketika Muhammad Nazar bergegas ke kamar kecil adalah pernyataan kakanda Ghazali Abas Adan bahwa Muhammad Nazar Calon Pemimpin masa depan, pernyataan beliau diruang tunggu sambil menunggu dimulainya diskusi panel Itulah kesaksian saya🙏🏻

Google search engine
Google search engine

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini